Mutiara Amaly Vol-31 Mutiara Amaly Vol 32 Mutiara Amaly Vol 33 Mutiara Amaly Vol 34 Mutiara Amaly Vol 35 Mutiara Amaly Vol 36

Rabu, 06 Mei 2009

Akhir Kalam Majalah Mutiara Amaly

0 komentar
Aku Berharap Bertemu Allah

Di dalam keadaan tidak seorangpun dari kamu menuntut aku lantaranmendzalimi di jiwa atau di harga

Pada suatu hari, seorang saudagar perhiasan di zaman Tabiin bernama Yunus bin Ubaid, menyuruh saudaranya menjaga kedainya karena ia akan keluar sholat. Ketika itu datanglah seorang baduwi yang hendak membeli perhiasan di kedai itu. Maka terjadilah jual beli di antara Baduwi itu dan penjaga kedai yang diamanahkan tuannya tadi.
Satu barang perhiasan permata yang hendak dibeli harganya empat ratus dirham. Saudara Yunus menunjukkan suatu barang yang sebetulnya harga dua ratus dirham. Barang tersebut dibeli oleh Baduwi tadi tanpa diminta mengurangkan harganya tadi. Ditengah jalan, dia bertemu dengan Yunus bin Ubaid. Yunus bin Ubaid lalu bertanya kepada si Baduwi yang membawa barang perhiasan yang dibeli dari kedainya tadi.
Memang dia mengenali barang tersebut adalah dari kedainya. Saudagar Yunus bertanya kepada Baduwi itu, "Berapakah harga barang ini kamu beli?"
Baduwi itu menjawab, "Empat ratus dirham."
"Tetapi harga sebenarnya cuma dua ratus dirham saja. Mari ke kedai saya supaya saya dapat kembalikan uang selebihnya kepada saudara." Kata saudagar Yunus lagi.
"Biarlah, ia tidak perlu. Aku telah merasa senang dan beruntung dengan harga yang empat ratus dirham itu, sebab di kampungku harga barang ini paling murah lima ratus dirham."
Tetapi saudagar Yunus itu tidak mau melepaskan Baduwi itu pergi. Didesaknya juga agar Baduwi tersebut balik ke kedainya dan ketika tiba dikembalikan uang sisanya kepada Baduwi itu. Setelah Baduwi itu pergi, berkatalah saudagar Yunus kepada saudaranya, "Apakah kamu tidak merasa malu dan takut kepada Allah atas perbuatanmu menjual barang tadi dengan dua kali ganda?" Marah saudagar Yunus lagi.
"Tetapi dia sendiri yang mau membelinya dengan harga empat ratus dirham." Saudaranya coba mempertahankan bahwa dia di pihak yang benar.
Kata saudagar Yunus lagi, "Ya, tetapi di atas punggung kita terpikul satu amanah untuk memperlakukan saudara kita seperti memperlakukan terhadap diri kita sendiri."
***
Jika kisah ini dapat dijadikan tauladan bagi pedagang-pedagang kita yang beriman, amatlah tepat. Karena ini menunjukkan pribadi seorang peniaga yang jujur dan amanah di jalan mencari rezeki yang halal.
Dalam hal ini Rasulullah S.A.W bersabda, "Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki dan
sesungguhnya aku harap bertemu Allah di dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi di jiwa atau di
harga." (Diriwayat lima imam kecuali imam Nasa'i)

Lanjutkan!
Ads
Adsvertisement

Dari Meja Redaksi Majalah Mutiara Amaly

0 komentar
...diantara milyaran manusia di muka bumi... Inilah kami Ya Allah... puluhan ribu hamba-hamba Mu yang dzoif berlumuran dosa merangkak menuju kepada-Mu... dengan hati yang serasa hancur mengharap curahan rahmat, ampunan, dan perlindungan Mu. Selamatkanlah hidup kami di dunia yang sementara ini, lindungilah kami pada hari tiada perlindungan melainkan perlindungan-Mu... hingga kami sampai ke negri abadi..
dalam kasih sayang, maghfiroh dan keridhoan-Mu.

Salam Ikhlas Penuh Ukhuwah
Dari Bilik Redaksi Yang Tenang

Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, Seiring dengan perjalanan waktu kebaikan selalu ada diantara kita. Kekuatan iman yang melahirkan kesejukan jiwa adalah harapan bersama. Indahnya kehidupan masih selalu kita rasakan. Hanya pandangan mata hati yang jernih menumbuhkan rasa syukur yang tinggi atas segala karunia Nya.
Romadhan yang selalu datang dan pergi dengan segala keagungannya membawa nikmat dan berkah. Allah melipatgandakan pahala tujuh kali lipat.
Rasulullah memberitahukan, “Telah datang kepadamu bulan Romadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan kepadamu puasa didalamnya.
Pada bulan ini pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan para setanpun dibelenggu. Pada bulan ini terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak memperoleh kebaikannya maka dia tidak memperoleh apa-apa.” (HR. Ahmad dan Nasa’i)
Tantangan hidup tidak pernah lekang. Keteguhan jiwa, kekuatan iman dan kesejukan jiwa menjadi bekal utama dalam menghadapinya. Dan itulah bekal mengarungi kehidupan ini menuju kebahagiaan yang kekal abadi di kemudian hari.
Harapan-harapan seindah mutiara menanti di hadapan. Perjumpaan melalui media ini, Insya Allah langkah menuju cita-cita dan harapan itu.
Dengan kebersamaan badai kehidupan takkan dapat menumbangkan jiwa. Allah bersama kita, tetaplah dalam langkah mulia ini. Jalan yang lurus dan selamat... ISLAM.
***
Di setiap detik yang berlalu kita memohon kepada Allah agar senantiasa bertambahkan kebaikan. Doa ikhlas kami untuk semua saudara yang selalu bersusah payah menebarkan Risalah ini dan siapapun yang istiqomah di jalan kebenaran. Kesilafan dan kekurangan selalu dimohonkan maaf, apa yang diluar jangkauan kekuatan kami, kepada Allah kami memohon pertolongan dan kembalikan segala urusan.
Kebersamaan kita bukan karena tujuan lain, selain kebaikan dan kebenaran. Mari tetap bersama-sama menempuh jalan ini. Jalan Allah... Islam
yang kita cintai.. sampai mati. Amin.
Wassalamualaikum Wr, Wb.

Lanjutkan!
Ads
Adsvertisement
 
Ads Ads Ads Ads Ads Ads

Mutiara Amaly vol 2. Copyright 2008 All Rights Reserved